Inovasi Plastik dari Singkong, Bisa Jadi Solusi Masalah Plastik Dunia

Inovasi Plastik dari Singkong, Bisa Jadi Solusi Masalah Plastik Dunia

Inovasi plastik dari Singkong pada akhir 2018 kemarin memang sempat menjadi perbincangan hangat, bukan hanya di Indonesia, namun sudah mendunia. Sebuah inovasi karya anak bangsa bernama Kevin asal Bali yang usai menjalankan pendidikannya pada 2009 di Amerika Serikat, dirinya bersama timnya mengembangkan alternatif plastik yang lebih ramah lingkungan.

Alasan Kevin Membuat Inovasi Plastik

Ide ingin membuat inovasi plastik yang lebih ramah lingkungan bermula dari terkejutnya Kevin sepulang dari Amerika Serikat yang melihat perubahan di pantai-pantai Bali yang saat ini justru penuh dengan sampah.

Sebagai seseorang yang hobi surfing, tentu saja hal tersebut cukup mengganggu aktivitasnya sekaligus keindahan alam. Untuk itu, Kevin bersama rekan-rekannya mencoba untuk mengembangkan bahan baku yang lebih ramah lingkungan untuk membuat plastik. Sebenarnya teknologi ini sendiri sudah pernah muncul di Eropa. Hanya saja Kevin menggunakan bahan yang berbeda dan tentunya akan lebih murah untuk masyarakat Indonesia sendiri.

Untuk menemukan racikan bahan yang pas dalam membuat plastik, Kevin dan timnya mencoba beberapa bahan sekaligus yang diambilnya dari alam yaitu jagung, kedelai dan singkong. Pilihannya jatuh pada singkong dengan mempertimbangkan produksinya yang sangat banyak dan harganya yang lebih murah. Sehingga munculnya ide plastik dari singkong.

Keunggulan Plastik dari Singkong

Apa yang hebat dari inovasi plastik dari bahan nabati ini? Salah satu yang diunggulkan dari produk ini yaitu karena plastik akan hancur dalam air kurang dari 1 menit. Dimana untuk produk plastik konvensional membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun untuk terdegradasi.

Selain itu, plastik dari bahan singkong ini juga memiliki harga yang terjangkau meskipun terbuat dari bahan organik. Dalam pembuatan plastik ini ditambahkan dengan senyawa aditif bernama Oxium. Gagasan dari produk ini adalah bioplastik dengan memanfaatkan pati, senyawa karbohidrat yang ditemukan pada singkong. Di eropa ide ini sudah pernah muncul, namun menggunakan sumber pati yang lain seperti jagung dan serat bunga matahari sehingga harganya jadi lebih mahal.

DIsini pengembang tidak menggunakan singkong mentah, akan tetapi singkong yang sudah dijadikan tepung jenis industrial grade yang umumnya digunakan sebagai pakan ternak. Bisa dikatakan bahwa bahan ini merupakan buangan karena patinya yang minim.

Pemasaran Produk Plastik Organik dari Singkong

Mungkin hasil riset dari Kevin dan rekannya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Yang membedakannya adalah upayanya untuk mewujudkan produk plastik organik ini secara nyata dan kemudian di pasarkan. Butuh waktu hingga 3 tahun untuk dirinya mendapatkan formula yang tepat hingga akhirnya produk siap untuk dipasarkan.

Melalui Avani Eco yang didirikannya pada 2016 lalu, Kevin memasarkan produk plastik ini. Klien pertamanya yang berminat untuk menggunakan produk bioplastik adalah Ritz Carlton Hotel. Kampanye melalui media sosial pun juga dilakukan hingga Garuda Indonesia pun juga memakai bioplastik dari Avani Eco. Kapasitas produksi plastik dari singkong pun meningkat hingga 4 ton sehari dengan 80%-nya di ekspor ke negara barat seperti Rwanda dan Kaledonia Baru.

Produk inovatif ini tidak akan memberikan efek berbahaya bagi biota laut dan tidak akan mencemari tanah. Untuk harganya sendiri tidak terlampau jauh dengan plastik konvensional, yakni selisih Rp 200 – Rp 3.000 saja. Disisi lain produk plastik dari singkong sudah mendapatkan sertifikasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).